#BlogArchive1 .widget-content{height:300px;width:auto;overflow:auto;}

Pages

Thursday, August 26, 2010

Hmm.. Apa gunanya Sapu Lidi??

Saat itu hari menjelang sore. Di sebuah surau, terlihat seorang lelaki tua bersama beberapa orang anak remaja. "Sekarang Abah mau menerangkan satu hal yang sangat penting dalam hidup kalian," ujar lelaki yang menyebut dirinya Abah tersebut.


"Apa itu teh Abah?" tanya salah seorang anak. "Sebelum menjawab pertanyaan, Abah ingin setiap kalian membawa sebuah sapu lidi," jawab Abah. Anak-anak itu terlihat sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Abah, tapi akhirnya mereka pun menuruti keinginan Abah. Masing-masing anak kembali ke rumah untuk mengambil sapu lidi.

"Nah, syukurlah kalian telah memegang sapu lidi," ujar Abah sambil memandangi anak-anak yang berjumlah empat orang tersebut. "Tugas kalian adalah menyapu halaman masjid ini sebersih mungkin. Agus menyapu bagian depan, Apud menyapu bagian kiri, Nana yang bagian kanan, dan Roni bagian belakang," kata Abah dengan rinci. Ia pun melanjutkan, "Abah beri kalian waktu selama tiga puluh menit untuk menyapu, setiap satu menit kalian harus mencabut sebatang lidi, dan setiap sapu harus terdiri dari tiga puluh batang lidi. Siapa yang paling banyak menyapu dan paling cepat, maka ia akan mendapatkan hadiah".

Segera saja keempat anak itu mengerjakan apa yang diperintahkan Abah. Dengan tekun dan gesit mereka menyapu halaman sekitar masjid yang cukup luas. Setiap satu menit Abah menepuk tangan sebagai tanda agar keempat muridnya mencabut sebatang lidi. Begitulah proses tersebut berlangsung. Batangan lidi yang berjumlah tiga puluh tersebut, satu demi satu hilang seiiring berlalunya waktu. Pada hitungan ketiga puluh, kumpulan lidi tersebut habis semua.

Setelah itu Abah memeriksa hasil kerja keempat muridnya. Tenyata hasilnya berbeda-beda. ada yang mampu menyapu seluruh halaman, ada yang hanya setengah, bahkan ada yang hanya sedikit. Abah hanya tersenyum saja. Sejenak kemudian dia memanggil keempat anak tersebut.

"Anak-anakku, Abah lihat kalian sudah menyapu dan hasilnya pun Abah rasa cukup menggembirakan. Halaman masjid menjadi bersih, walaupun Abah melihat bahwa sebagian dari kalian tidak berhasil membersihkan sampah secara keseluruhan," ungkap Abah.

Setelah semuanya berkumpul, Abah bercerita kembali, "Ketahuilah anakku, bahwa salah satu harta yang Allah berikan kepada manusia adalah waktu. Ia adalah modal terbesar yang harus kita gunakan sebaik-baiknya. Barangsiapa yang mampu memanfaatkannya secara baik, maka ia akan bahagia hidupnya; tapi barangsiapa menyia-nyiakan waktunya maka ia akan sengsara.

"Abah, apa hubungan antara waktu dengan sapu lidi?" tanya seorang muridnya. "Itulah yang akan Abah terangkan kepada kalian," kata Abah. Ia pun melanjutkan petuahnya, "Hidup seorang Muslim itu seperti sapu lidi yang kokoh. Setiap hari satu batang lidi gugur, sampai pada satu saat tidak ada lagi lidi yang tersisa. Jadi lidi ini dapat dianalogikan dengan waktu yang membentuk hidup kita. Kalau kita memboroskannya berarti lidi itu hilang tanpa kita sempat menyapu. Karena itu, menyapulah sebanyak dan sesering mungkin sebelum lidi-lidi itu berguguran. Gunakanlah waktu muda kalian untuk berkarya besar, sebelum datangnya waktu tua saat kalian tidak mampu lagi berbuat apa-apa".

(lupa sumbernya, harap diingatkan)

Kesunyian Cahaya


Padang pasir terhampar luas
tiada air, kering kerontang
pasir bertebangan, menampar udara yang membakar

cahaya menyinari dunia
siang, malam silih berganti
namun cahaya merasa sunyi
udara gurun pasir yang membahar itulah membuatnya sunyi

berpikir
merenung

cahaya datang untuk menyinari bukan membatu udara
datang bukan untuk menyakiti
membuat dahaga

kembali menyendiri...

tersadar kembali, tanpanya bumi terguncang
tumbuhan tenggelam
walau terik pun, ia tetap menyinari
sebuah keharusan, tiada bergoyang tiada ragu
pada kenyataan tugasnya

tak harus menyesuaikan dengan semua
terjang!
yang lain membutuhkannya..

EHP
060810

Bintang

malam ini begitu sepi, tiada rasa, tiada jiwa
langitpun begitu gelap, hotam, menutupi dunia
bintang datang untuk menyinari dan mewarnainya
secercah cahaya memberi harapan bagi semua

kecil, namun memberikan keindahan, karena pancaran sinarnya
bertaburan, berkelap kelip, sahut menyahut.

Ia bukanlah matahari yang menjadi pusat penyinaran bumi disiang hari.
Bukan juga rembulan, besar mudah terlihat

bukan tidak ingin, bintang seperti rembulan.
namun ia merendahkan hatiny, tak perlu besar namun ia lah secercah harapan

selayaknya bintang harapan itu teruslah ada.
mereka terus bersina, tiada meredup sekalipun.
namun terkadang kitalah yang menghalanginy, membuatnya seolah meredup.
lihat langit jakarta!

bila kit asedikit punya keinginan utnuk terus menanjak, berada di atas, menaklukkan atap2 penghalang.
PASTI! PASTI! harapan itu akan terlihat jelas menyinari kita.
sebagaimana bintang yang bersinar dengan indahnya menyambut kita dari atas sana.

270710

Sebuah Jawaban Atas Keindahan

suatu perjalanan di pagi hari
suntuk, mengantuk, namun tetap terpahat dalam hati
dimulai ketika para pepohonan berceria, mandi, dan tertawa atas datangnya sekawanan air yang mengelilingi tubuh mereka.
lalu kulihat para burung berkumpul, bernya...nyi ala kadarnya,
yah hanya ala kadarnya, yang bila kudengar aku merasakan ketentraman, nyaman,dan damai

matahari mulai menyambutku dari kejauhan,
keemasannya berusaha menutupi kegelapan para langit, begitu juga kegelapan mata dan hatiku.

namun ku tersadar itu hanyalah salah satu mimpi indahku.

keindahan itu bukanlah apa yang kita lihat diluar, bukan apa yang kita rasakan.
namun keindahan itu berasal dari lubuk hati, jiwa terdalam.

tak bisa dipungkiri dan tak bisa dibohongi,
namun ketika hatimu tertutupi banyak keindahan yang kau rasa hanya seperti mimpi.
kau impikan itu namun tak kau rasakan.

EHP
260710

Wednesday, December 2, 2009

Pantas atau tidak, yang penting terbiasa...

Kita sering denger 'Dokter Hewan' kan?? 'Kebun Binatang' juga... Tapi sadarkah kita??
Hewan = Binatang..
Lalu kenapa??
Coba deh kita ganti 'Dokter Hewan' sama 'Dokter Binatang', cocok gak sih?? lazim gak??
Kalo 'Kebun Binatang' dengan 'Kebun Hewan', gak cocok juga kan??
hmm... kenapa ya??

Namun, ada cerita lain, Kalo 'BUPATI'..??
apakah dia cocok, kalo yang menjabat adalah seorang pria dan dia dipanggil "bu"..??
Lalu, istrinya dipanggil ibu bupati..? Jadi dobel "bu" dan gak cocok kan??
Namun, karena ini sudah biasa maka nampak "lazim" di telinga kita..

Begitu juga dengan setiap tindakan kita, baik itu tindakan negatif maupun tindakan positif.
Mari kita lihat,,
Dimulai dari tindakan negatif, di Agama manapun berbuat maksiat (hal-hal pornografi, dsb) sangatlah tidak lazim untuk dilakukan.
Namun saat ini, di beberapa belahan dunia, melakukan hal-hal yang pornografi, mulai dari membuat film, membuka bajunya dimana-mana, melakukan pemotretan yang 'syur', dan seterusnya yang sebetulnya tidak lazim untuk dilakukan, saat ini sudah nampak biasa saja untuk di lakukan. Bahkan banyak pendukungnya, apabila tindakan-tindakan tersebut dilarang.

Begiu juga tindakan positif, sering kita merasa enggan melakukan tindakan postif karena takut dianggap aneh oleh orang-orang sekitarannya. Apabila dalam Agama Islam, tindakan-tindakan positif tersebut seperti shalat, shalat tepat waktu, shalat sunnah, mengaji, puasa, dsb.
Sering orang tidak melakukan itu semua karena 'takut' dianggap aneh oleh teman sepermainannya,,

Ada cerita seperti ini,
Ada seorang (sebut saja Bayu), dia sering mengajak teman-temannya untuk shalat. Namun berbagai tanggapan Bayu dapatkan dari teman-temannya, seperti:
1. Ah,, nanti aja ah.. masih sibuk nih!
2. Shalat? 2009 masih shalat???
3. O... Yaudah duluan aja..

hehehe... seperti shalat merupakan hal yang tidak lazim dilakukan, apalagi shalt tepat waktu..
hmm...

seperti contoh BUPATI di atas, bahwa sesuatu yang tidak lazim akan menjadi lazim apabila sudah terbiasa.
maka mulai dari sekarang kita BIASAKAN untuk berbuat hal-hal positif yuukk... Agar semua menjadi Lazim untuk diri kita..

Semangat selalu!!